Singgih Januratmoko: Pendidikan Pancasila Penting untuk Dorong Nasionalisme Generasi Muda

Singgih Januratmoko: Pendidikan Pancasila Penting untuk Dorong Nasionalisme Generasi Muda

TRIBUNJATENG.COM, KLATEN -- Persoalan besar bangsa Indonesia saat ini, adalah generasi muda yang memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Penyebabnya adalah pengaruh budaya asing yang tidak selaras dengan kepribadian bangsa.

“Akibatnya banyak generasi muda yang melupakan budaya sendiri karena menganggap, bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih modern dibanding budaya bangsa sendiri. Mereka mengabaikan nilai-nilai luhur bangsa inilah awal mula kedaulatan negara terancam,” tegas Anggota Komisi VI DPR RI Singgih Januratmoko.

Keprihatinan Singgih tersebut ia nyatakan saat “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan” di Klaten, Jawa Tengah, pada Selasa (20/6). Di hadapan sekitar 250 warga Klaten, ia mengingatkan bahwa menjaga dan melestarikan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), merupakan jaminan keberlangsungan dan kedaulatan Republik Indonesia.

“Generasi muda harus memahami dan mengerti, lalu memaknai kehidupan sehari-hari mereka dengan Empat Pilar Kebangsaan itu, agar Indonesia bisa lestari. Negara yang punah di masa lalu, karena pengabaian ideologi dan ketidakpedulian generasi penerusnya terhadap falsafah dan dasar negaranya,” ungkap Singgih.

Singgih mengingatkan rembesan budaya asing yang bertentangan dengan Pancasila melalui film dan gaya hidup, yang diakses dari internet dan media lainnya, bisa memudarkan nasionalisme dan kebangsaan,

“Akibatnya generasi muda saat ini mengalami disorientasi, dislokasi dan terlibat pada
suatu kepentingan yang hanya mementingkan diri pribadi atau kelompoknya,” ungkap Singgih.

Semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan yang menurun itu, bisa disaksikan dengan anggapan mereka, bahwa budaya barat lebih modern dibanding dengan budaya sendiri.

Sebagian pelajar dan mahasiswa, banyak mengekor budaya barat dan tak peduli lagi dengan nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Hal itu bisa disaksikan dari cara mereka bersikap, berpakaian, berbicara sampai pola hidup yang cenderung meniru budaya asing.

Tanpa disadari, generasi muda saat ini hidup dalam sikap individualistic. Memuja kebebasan individua, sementara nilai atau moral utama bangsa Indonesia adalah komunal dan gotong-royong,

“Maka pudarlah saling menghormati, toleransi, dan empati. Inilah yang membuat modal sosial untuk membangun bangsa bisa tergerus,” keluh Singgih.

Fenomena itu, tidak hanya di perkotaan namun juga mulai terasa di pedesaan. Informasi mengenai gaya hidup, bisa diakses melalui ponsel,

“Itulah yang membuat budaya Barat yang konsumeris dan hedonisme diserap generasi muda di berbagai pelosok,” tuturnya.

Ia pun meminta agar pendidikan Pancasila diterapkan dengan teladan, baik di sekolah, keluarga, maupun dicontohkan para pejabat publik,

“Pancasila diharapkan dapat memfilter pengaruh negatif sehingga generasi muda bisa menjadi generasi yang benar-benar cinta pada tanah air Indonesia apapun keadaanya. Tentunya dengan teladan, tidak di atas kertas saja,” ungkap Singgih.

Singgih pun mengajak seluruh elemen bangsa, menyosialisasikan Pancasila dengan cara kreatif. Bisa dengan film tentang keteladanan,

“Lalu disebarkan melalui media massa dan media sosial. Ini kampanye yang efektif untuk membumikan Pancasila dan Empat Pilar Kebangsaan,” pungkas Singgih.