Pinsar Minta Pemerintah Bantu Atasi Masalah Perunggasan

Pinsar Minta Pemerintah Bantu Atasi Masalah Perunggasan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia menyatakan, dalam dua tahun terakhir para peternak rakyat mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19. Hal ini yang kemudian membuat daya beli masyarakat turun.

Ketua Umum Pinsar Indonesia Singgih Januratmoko menyebut, menumpuknya persoalan perunggasan juga menggerus jumlah peternak mandiri UMKM.

“Yang dulunya 80% peternak mandiri dan 20% peternak integrasi, kini peternak mandiri tinggal 20%. Hanya peternak ayam layer yang stabil di angka 90%,” ungkap Singgih dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Jumat (26/8).

Menurut Singgih, dengan harga telur yang berkisar Rp 27.000 per kilogram (kg) sampai Rp 30.000 per kg di pasaran saat ini, belum cukup untuk menutupi kerugian peternak selama 1,5 tahun.

“Kenaikan harga telur tersebut, memang sewajarnya agar peternak tidak rugi. Demikian pula dengan harga ayam potong, memang seharusnya Rp 23.000 per kg- Rp25.000 per kgDi bawah harga itu, peternak merugi," terang Singgih.

Pinsar berharap pemerintah hadir di tengah-tengah peternak dan petani. Sebab, kesejahteraan peternak dan petani masih rendah.

"Kami berharap kehadiran Kementerian Pertanian, Perdagangan, Bapanas, dan Satgas Pangan dapat menaikkan kesejahteraan petani dan peternak,” ujar Singgih.

Menanggapi pernyataan Singgih Januratmoko, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengatakan, pihaknya ditugaskan melalui Perpres No. 66 Tahun 2021, untuk menjamin ketersediaan dan stabilisasi pangan, mengurangi kerawanan pangan dan gizi. Serta meningkatkan penganekaragaman konsumsi dan keamanan pangan.

"Nantinya Bulog menjadi operatornya Bapanas, sehingga bisa menyerap telur dan ayam, seperti yang dilakukan di Jakarta,” ujar Arief.

Bapanas, menurut Arief, akan menjaga keterserapan pangan, dengan demikian para peternak tidak cemas dengan stok telur dan daging ayam mereka.

"Kami juga diberi kuasa oleh kementerian lain, dalam hal stabilisasi harga dan distribusi pangan, serta ekspor dan impor dari Kementerian perdagangan. Bahkan diberi wewenang penetapan cadangan dan penetapan harga yang sebelumnya di Kementerian Pertanian,” jelas Arief.

Arief mengatakan, Bapanas menetapkan Harga Acuan Pembelian dan Penjualan (HAP) jagung kering pipil berkadar air 15%, Rp 4.200 per kg di tingkat petani dan Rp 5.000 per kg di tingkat peternak.

Sementara HAP telur ayam seharga Rp 22.000 per kilogram sampai Rp 24.000 per kg di tingkat peternak.

“Sedangkan di tingkat konsumen Rp 27.000 per kg. HAP live bird atau ayam hidup Rp 21.000- Rp23.000 per kg di tingkat peternak, dan Rp36.750 per kg di tingkat konsumen,” papar Arief.

Arief menyatakan, Bapanas memerlukan kerja sama dengan komunitas seperti Pinsar untuk membantu tugas-tugas terkait ketahanan dan swasembada pangan. Untuk membantu tugas Bapanas, Satgas Pangan Polri bakal menindak penyelewengan-penyelewengan yang mengakibatkan kerawanan pangan.

“Kami bertugas memastikan ketercakupan, kelancaran produksi dan distribusi sampai ke tangan konsumen,” ucap Arief.

Agar stok pangan terus tersedia, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Nasrullah, mengatakan pemerintah campur tangan mendalam untuk mengatur produksi di tingkat hulu, seperti Day Old Chicken (DOC).

“Yang lebih tahu kebutuhan DOC adalah pelaku usaha, karena mereka yang mengetahui bisnis ini sejak awal, terutama peternak,” ujar Nasrullah.

Menurutnya, untuk mengatur produksi, pemerintah hanya mengawasi dan akan "Menjewer" jika ada yang nakal.

Kebijakan cutting DOC misalnya, diambil hanya berdasarkan data di atas kertas. Bila data salah, maka kebijakannya jadi salah. Akan tetapi kalau diatur sendiri oleh pembibit, angkanya lebih pasti.

“Jadi semuanya senang, bandingkan kalau ada cutting ada yang senang dan ada yang tidak senang. Kalau diatur sendiri semuanya lebih senang,” kata Nasrullah.

Apalagi pola konsumsi di Indonesia tidak stabil. Sebab, terdapat hari-hari khusus di mana konsumsi telur dan ayam meningkat. "Tapi adapula hari-hari yang menurun. Sementara produksi stabil,” imbuh Nasrullah.